Mencari-cari

Posted: July 18, 2010 in share

Manusia memiliki kecenderungan untuk mencari. Take a few minutes, ingat dan sadari ternyata kita seringkali “mencari-cari”. Mulai dari sekedar mencari tempat makan paling nyaman, mencari barang paling bagus tapi murah, sampai pada mencari jabatan, mencari popularitas, mencari uang, mencari kekasih, bahkan mencari masalah (-red). Mencari-cari bukanlah sebuah kesalahan, tapi yang berbahaya adalah ketika sebuah pencarian berujung pada lembah kekelaman atau kejatuhan dalam dosa.

Memang benar ada banyak hal yang ingin kita cari di dunia namun kepuasan tidak pernah ada akhirnya. Bahkan sejak zaman Adam dan Hawa sekalipun, sifat “mencari” sudah jelas terlihat. Ingatkah kita ketika mereka digodai si iblis? Terbersitlah sebuah keinginan untuk “mencari” tahu kebenaran kata-kata si iblis. Meskipun sebelumnya Tuhan telah berpesan, tapi mereka tetap saja mencari tahu “benarkah mereka bisa menjadi sama seperti Tuhan?”

Lampu kuning (warning) : Mencari tahu yang berakibat fatal, karena keserakahannya…

Begitulah, manusia jatuh ke dalam dosa karena mencari cara bagaimana supaya mereka bisa menjadi sama seperti Tuhan. Hingga akhirnya Tuhan Yesus Kristus datang ke dunia dan berfirman, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33).

Lalu sekarang tunggu apa lagi? “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” (Yesaya 55:6). God bless.

Bukan Untuk Apa, tapi Untuk Siapa?

Posted: July 18, 2010 in Fiksi

“Agoi Amaangg!! (bahasa Batak : Ya ampuun!!) Kenapa namaku ada di jurusan Ekonomi Pembangunan? Entah jurusan apa pun ini? Aku kan bukan anak IPS, kemarin pun aku belajar soal-soal IPS antara ada dan tiada, bisa-bisanya aku masuk jurusan ini. Aneh..” Aku bersungut-sungut di kamar setelah melihat namaku tercantum di pengumuman SNMPTN di Berita Sore.

“Selamat ya , Mang..” Wajah Mamaku berseri-seri saat menunjuk dengan bangga nama Elkana Mario dalam koran yang sudah ditandai dengan stabilo biru. Aku hanya tersenyum getir. Rasanya aku ingin membatalkan semua ini tapi tak sanggup rasanya membatalkan senyum bangga Mamaku itu. Senyum bangganya penuh makna, seolah-olah ingin segera me-laminating lembaran Koran yang bertuliskan nama putra sulungnya ini.

***

“Halooww!! Nga boa kuliah mi, Amang? Mantap do kan? Burju-burju ma ho na marsikkolai da.. Asa malo ho, jala dapot ma muse anon cita-citam. Boa menurutmu, pas do kan?” (bahasa Batak : “Halo, gimana kabarmu, Nak? Mantap kan? Baik-baiklah kamu bersekolah ya supaya pintar dan tercapailah cita-citamu. Gimana, kamu setuju kan?”) Bapak meneleponku dengan penuh semangat dan wejangan. Ini kedua kalinya Beliau menelpon dalam sebulan ini. Aku hanya menjawab,”Olo, Bapa..” (bahasa Batak : Iya, Pak) seadanya.

Setelah bertelepon dengan Bapak, rasanya hatiku sesak. Ingin sekali kuberlari dari semua kenyataan ini. Aku tidak tahu harus bagaimana. Ini terlalu di luar dugaanku. Aku tak pernah menduga akan berkuliah di jurusan yang tak kukenal sama sekali ini. Apa itu, Ekonomi Pembangunan??!! Haahhh, rasanya seperti terdampar di Kepulauan Seribu. Tanpa kompas, tanpa pemandu. Tambahan khusus untuk Bapak, mungkin aku akan rajin belajar dan berprestasi, tapi sayang aku tidak punya cita-cita, Pak…

***

Begitulah, akhirnya aku menjalani perkuliahanku seperti sayur tanpa garam, hambar. Rasanya statis, flat. Tapi anehnya nilaiku selalu bagus. Tidak pernah sejarahnya aku mendapatkan nilai jelek dan hebatnya lagi IP-ku selama dua semester ini selalu di atas tiga. Amazing, itu karena aku hoki atau karena memang aku brilliant ya?? (hehe, narsis mode on..)

“Elmo, besok kita datang kebaktian kampus yok, Bro..” Suatu saat untuk ketiga kalinya Frank mengajakku datang kebaktian. Supaya cepat, kali ini aku mengangguk-angguk saja, mie ayam yang ada di depanku jauh lebih menyibukkanku dan membutuhkan konsentrasi. Eits, tapi tunggu dulu.. ELMO??!! Huhh, seenaknya saja dia menyingkat-nyingkat namaku. Untung aja, saat ini selera makanku jauh lebih besar ketimbang merepeti dirinya.

***

“Jadi, sebenarnya hidup itu harus punya tujuan, toh? Hmm, jangan-jangan aku selama ini emang benar-benar gak punya tujuan ya? Untuk apa aku kuliah? Untuk apa aku hidup? Dan seterusnya…” Aku terus merenungkan kotbah pembicara di kebaktian kampus tadi siang.

Keesokan harinya aku privat dengan Pemimpin Kelompok Kecil (PKK)-ku. Yah, sepertinya aku memang termasuk adek kelompok kecil (KK) yang nakal karena aku selalu punya segudang alasan kalau diajak KK. Dan benar saja, kali ini lagi-lagi aku tidak persiapan bahan KK. Memang JOGAL (bahasa Batak: keras, bandel). Menurutku Bang Haris ini ―itu nama PKK-ku― layak mendapatkan pin penghargaan bertuliskan ‘PKK paling sabar di seluruh dunia’, hehe.. Akhirnya kami sharing pribadi dan tidak membahas bahan PA yang seharusnya. Otomatis tanpa diminta aku menanyakan ‘something’ yang bercokol di pikiranku, “Bang, sebenarnya untuk apa sih kita hidup?”

Dengan tenang Bang Haris menjawabku,”Dek, bukan untuk apa, tapi untuk siapa??”

“Maksudnya, Bang??” Nah lho, aku bertanya lagi. Aku malah jadi semakin tidak mengerti.

“Kalau kita hidup untuk sesuatu maka hidup kita seperti mati, karena kita hidup untuk sesuatu alias benda mati. Nah, kalau kita hidup untuk seseorang maka hidup kita digerakkan oleh suatu tujuan, oleh seseorang yang hidup, yaitu Yesus Allah yang hidup.”

“……” Aku diam dan belum bisa memberikan argumen. Aku malah berada dalam kondisi bingung kuadrat. Mungkin kenakalan dan ego-ku sudah menebal dan dengan sukses telah menutup relung hati dan pikiranku sehingga rasa-rasanya aku jadi sulit untuk mengerti.

“Contoh sederhana, kenapa kamu kuliah di Ekonomi Pembangunan, Dek?”

“Karena kebetulan aku lulus di sini, Bang..” ucapku apa adanya.

“Dek, sebenarnya tidak ada yang namanya kebetulan. Menurut abang, pasti ada rencana Tuhan di balik semua ini. Mungkin sekarang kau belum tahu, tapi suatu saat kau akan tahu. Untuk itu dari sekarang bangunlah komunikasimu yang baik dengan Tuhan. Biarkan Dia menguasaimu dan menggerakkan hidupmu lebih luar biasa lagi, sekalipun dalam studimu, yakinlah Tuhan ingin memakaimu dan itu demi kemuliaan nama-Nya.

***

“TUHAN YESSUUUSSS!!!” Suaraku memanggil nama-Nya. Sekali saja, itupun segera hilang dibawa pergi angin semilir. Kudengar suaraku agak bergema. Tiga tahun telah berlalu dan kini aku berdiri seorang diri. Di sini. Di lantai puncak gedung pencakar langit di kotaku. Nafasku terengah-engah dan kuterdiam. Lega rasanya. Perlahan suaraku kembali ke titik normal.

“Thank You, Lord. Kau yang ubahkan hidupku. Aku sadar tidak ada yang namanya kebetulan, apalagi untuk orang-orang yang mau percaya kepada-Mu. Inilah karya-Mu. Kupersembahkan hidupku hanya untuk-Mu. Yeah.. selalu untuk-Mu,” ucapku lepas.

Terus kunikmati momen ini. Terus kuberbicara pada-Nya yang tidak kelihatan namun kurasakan hadirat-Nya. Aku tak peduli. Kubiarkan tasku tergeletak di lantai, di atasnya tergolek manis selembar Surat Keputusan yang menyatakan diriku sebagai seorang pegawai baru di Bank Indonesia. Aku tenggelam bersama emosi dan alam. Sunset. Cakrawala berpendar jingga merona mencerminkan perasaanku. Langit bak lukisan rombongan keluarga burung yang berlomba-lomba pulang ke sarang sebelum matahari hilang ditelan bumi. Sebuah janji dan harapan tersirat di balik tenggelamnya sang matahari, seolah berkata, “Tenang, aku akan datang lagi besok hari..”

Doremifasol

Posted: July 4, 2010 in Fiksi
Tags: ,

Persahabatan itu ibarat perpaduan nada-nada indah.  Meskipun berbeda-beda, ketika nada-nada itu bergabung dan membentuk birama-birama, terciptalah musik, terciptalah lagu, yang selanjutnya akan dinikmati banyak orang…

Bayangkan jika di dunia ini hanya ada nada do, re, mi, fa, atau sol saja. Mungkin tidak akan ada lagi yang namanya lagu indah, tidak ada musik, tidak ada lagi paduan suara, dan sejenisnya. Yang ada hanya nada datar, tanpa variasi, tanpa keindahan. Bahkan suara merdu Mariah Carey sekalipun akan terdengar fals. Ternyata bukan karena kesamaan maka terjadi keindahan, namun karena ada perbedaan yang membuat sesuatu terlihat lebih indah. Lebih terasa maknanya. Seperti itulah persahabatan.

Aku teringat saat pertama kali masuk ke kampus ini. Kampus yang cukup populer dan saat itu yang ada dalam pikiranku hanyalah, “aku tidak akan dapat teman di sini.” Aku sangat pemalu, tidak seperti Renata yang supel dan penuh kehebohan.

Aku juga tidak seperti Tomi, yang penuh dengan bakat. Dengan mudahnya dia merebut hati para wanita di kampusku. Waktu OSPEK dulu dialah yang terpilih sebagai peserta paling berbakat. Nyanyi oke, main gitar apalagi. Sungguh-sungguh anak yang beruntung, pikirku.

Aku juga tidak seperti Falisa, dia itu pintar sekali berbahasa Inggris. Padahal kalau diingat-ingat sudah berapa lama aku mempelajari bahasa yang satu itu, tapi tetap saja aku tidak mahir bercakap-cakap alias conversation. Tentu saja dengan itu Falisa menjadi juara speech (pidato bahasa Inggris) waktu OSPEK.

Yang paling parahnya aku juga tidak seperti Solomon, pria paling tampan di kampusku (menurutku..). Ugh… Bahkan gebetanku, Lastri, pun tidak berkedip saat memandang Solomon berlenggang-kangkung di acara bintang berbakat di OSPEK kami. Dengan gaya natural dan tentu saja didukung wajah tampannya itu, semua mata tertuju padanya. Jujur saja, aku iri padanya. Bukan hanya karena dia blasteran Manado-Belanda, tapi terlebih lagi karena pujaan hatiku juga terpikat oleh ketampanannya.

Betapa menyedihkannya diriku dan tidak ada yang menarik dari diriku, pikirku saat itu. Begitulah, waktu itu aku belum menyadari betapa Tuhan mengasihiku dan Dia memiliki rancangan indah bagiku. Hanya mengasihani diri sendiri, mungkin itulah yang kutahu saat itu.

Tapi Puji Tuhan, cukup sebulan saja aku terhimpit dalam pikiran-pikiran bodohku. Pikiran-pikiran yang hanya sebatas pikiran, hanya kesemuan belaka, karena sesungguhnya mereka memang tidak nyata sama sekali.

Itulah saat yang tidak akan pernah kulupakan. Saat Renata menyapaku dan mengajakku masuk dalam kelompok kecilnya. Bukan karena aku terpesona padanya, maka aku selalu mengingat moment itu. Tapi terlebih lagi karena dia mau memandang aku yang tidak ada apa-apanya ini. Si Batak Tembak Langsung, yah, itulah julukan orang-orang tentangku.

Akan tetapi, ada hal yang lebih tidak kusangka lagi. Di kelompok kecil itu juga ada Solomon, pria blasteran. Kenapa sih aku harus satu kelompok dengan dia? Risih juga dengar aksen Belandanya saat dia bicara. Sempat terpikir olehku, andaikan saja bapakku dulu juga bisa menikah dengan none-none Belanda, mungkin aku akan setampan Solomon juga. Akhh, apa sih yang kupikirkan? Gak, biarpun mamaku juga orang Batak, aku tetap bangga dan sangat menyayangi mamaku.

Hari berganti hari, akhirnya aku semakin mengenal teman-teman kelompokku. Renata, si Jawa Batak. Tomi, si keturunan Nias-Tionghoa, dan Falisa, si boru Karo. Aku pun sampai bingung, kenapa dia bisa begitu fasihnya berbicara bahasa Inggris.

Bulan berganti bulan, keakraban kami pun mulai terjalin. Memang, tidak bisa dipungkiri ini berkat Renata juga, karena dialah yang paling kreatif dan heboh. Selama kami kelompok, Renata selalu membuat games dan bentuk keceriaan lainnya. Bahkan abang kelompok kami yang notabene adalah keturunan India pun jadi heran sekaligus bersyukur dibuatnya.

Kini, tiga semester sudah kami lalui bersama. Pertumbuhan yang dilalui bersama. Kejatuhan yang berganti-gantian membuat kami saling membangkitkan dan meneguhkan. Sungguh luar biasa. Tuhan menyatukan perbedaan dalam satu persamaan. Meskipun terkadang ada kalanya terjadi pergesekan karakter di antara kami. Mungkin bukan hanya karena perbedaan gender, tapi juga perbedaan watak dan kebiasaan dari etnik yang berbeda-beda.

Akan tetapi, kami yang tadinya berasal dari latar belakang yang beragam, kini sudah setara dan sama di hadapan-Nya. Kini semuanya telah berasal dari rahim yang sama. Lahir baru. Hanya karena Kristus.

Ya, saat ini aku sudah tidak berpikir sempit lagi. Saat ini aku sudah berani berkata bahwa, aku bukanlah orang paling menyedihkan di dunia ini. Apa yang tidak kupikirkan itu yang Tuhan sediakan bagiku. Tak terselami pikiran-Mu, Tuhan. Bulan lalu aku terpilih sebagai juara dalam pertandingan karya tulis yang disponsori oleh Menpora, dan semester depan aku akan berangkat ke Singapura. Aku akan maju sebagai wakil Indonesia, mengharumkan nama Indonesia di negeri orang. Thanx God…

(pernah dimuat di majalah dinding UKM-KMK-USU edisi Agustus 2009)

Today Influence Your Tomorrow

Posted: June 24, 2010 in share
Tags: , ,

“Mumpung masih muda, enjoy aja lagi, libas, sikat, lanjutkan, bla, bla, bla…”

Kadangkala ketika mengerjakan sesuatu kita gak memikirkan bagaimana dampaknya buat masa depan kita. Mau begadang tiap malam kek, mau ngerokok tiap jam kek, mau gak sarapan tiap pagi kek, mau nge-game tiap hari kek, mau online tiap menit kek, whatever… sadar gak sadar kita seringkali mengabaikan gimana pengaruh semua itu buat ke depannya. Seringkali kita lupa buat berpikir di awal, bertindak di akhir, a.k.a, sekarang ya sekarang, besok ya besok.
Hidup adalah pilihan, apapun yang menjadi pilihan kita dalam hidup, selalu ada konsekuensi dan resikonya, entah itu baik atau buruk. So, berhati-hatilah dengan pilihan hidupmu karena sebenarnya Tuhan kita bukanlah Tuhan yang otoriter, yang suka ngatur-ngatur ato maksa-maksa kita buat ini-itu. Sebaliknya Tuhan malah ngasih “kehendak bebas” kepada setiap manusia ciptaan-Nya. Itu karena Tuhan mau ngajarin kita untuk bertanggung jawab terhadap apapun yang kita kerjain termasuk setiap pilihan kita.
Sebenarnya, lewat Alkitab semua kehendak-Nya udah dikasi tahu sama kita. Cuma seringkali kita gak mau dengar apa kata-Nya, atau mungkin salah memahami apa maksud-Nya. So, be wise to make a choice for everything karena apapun yang kita pilih untuk kita kerjakan saat ini sesungguhnya itu mempengaruhi masa depan kita. Lama-lama itu juga bisa jadi sebuah kebiasaan hidup, lho.. So, dari sekarang biasakan hidup sehat biar tubuh kita sehat, biasakan berpikir sehat biar jiwa kita sehat, dan biasakan HPdT (hubungan pribadi dengan Tuhan) sehat biar rohani kita juga sehat.
Bayangin apa yang bakal terjadi pada tubuh, jiwa, dan roh kita dalam lima tahun ke depan, andaikan saat ini kita masih suka begadang, nge-game, ngerokok, males sarapan, negative thingking, piktor (pikiran kotor), males sate (saat teduh) and doa. Ada lagi nih, hal yang gak kelihatan tapi dampaknya luar biasa berbahaya. Kalo saat ini kita masih gak mau mengampuni kesalahan orang lain dan terus memendam kesalahannya, bayangin apa yang akan terjadi pada kita di hari penghakiman nanti (wah, ini sih seram banget..).
So guys, ingat, apapun yang kita pilih hari ini berpengaruh terhadap hari esok kita. So, have a wisdom from God ya.. GBU

(pernah dimuat di majalah Kingdom, edisi Juli 2010)

I Know Now

Posted: June 24, 2010 in Fiksi
Tags: , ,

“Mars, jalan yuk, aku mau hunting kaos-kaos dan boneka lucu lagi nih, mumpung ada SALE besar-besaran lho..” ajak Rena yang doyan banget shopping.
“Lho, kan baru minggu lalu kamu beli yang baru, masa udah mau beli lagi?” Marsel kaget dengan ajakan Rena dan mencoba untuk menolak secara halus.
“Gpp donk, Mars. Sekali-sekali. Lagian aku belanjanya kan pake duit aku, bukan duit kamu. Ayo donk, masa aku pergi sendirian..” Rena mencoba merayu pacarnya lagi.
“Rena, ini bukan masalah pake uang kamu ato uangku. Ini masalah kebutuhan ato bukan kebutuhan. Lagipula ini bukan ‘sekali-sekali’ lagi namanya, tapi ‘seringkali’, non..” Mars mencoba menasihati pacarnya itu. Karena sayangnya kepada Rena, Mars selalu ingin memberikan yang terbaik padanya, dia tidak mau terlalu memanjakan dengan meng-iya-kan segala permintaan Rena.
“Huhhh… Kamu gak sayang ya sama aku ya?” Rena mulai bertingkah dibumbui dengan sedikit ngambek, berharap Mars bisa tergugah hatinya, lantas meng-OK-kan ajakannya.
Tapi Mars tetap pada pendiriannya dan mulai mengingatkan, “Gak gitu juga kali, Ren. Kamu harus berjuang melawan godaan donk, jangan mau kalah. Oce..” Untungnya, Rena merespon positif perkataan Mars dan ‘ngge-ngge tandanya ‘nerimo.
“Hmm, gimana kalo kita makan aja dulu. Udah waktunya makan lho, kamu gak mau kan kalo kita sampe sakit maag??” ajak Mars untuk mengalihkan perhatian. Demi kebaikan, Mars mencoba mematahkan kebiasaan Rena yang selalu ingin hunting-hunting di mall.
***
“Ren, gimana saat teduh kamu, udah bisa dinikmati and gak bolong-bolong lagi kan?” Mars membuka obrolan sambil menunggu pesanan.
“Yahh, gitu deh. Aku berjuang banget buat bangun pagi-pagi biar bisa sate tiap hari. Pernah juga sih sambil ngantuk-ngantuk gitu, hehe…” curhat Rena sambil memainkan gulungan tisu yang tersedia di atas meja mereka.
“Tapi dinikmati kan?” selidk Mars ingin memastikan lagi.
“Puji Tuhan menikmati. Lama-lama aku jadi merasa itu suatu kebutuhan lho. Rasanya setiap bangun pagi itu ada sebuah kerinduan untuk menikmati hadirat-Nya dan pengen tahu lebih banyak isi surat cinta-Nya, haha…”
Mereka tertawa lepas. Mars tampak lega, akhirnya pacarnya bertumbuh juga, meskipun masih ada beberapa kebiasaan Rena yang belum berubah. Tapi, Mars akan sabar menantikan perubahan itu.
***
“Shalom… Rena pulang, Ma..” Rena mengucap salam dan mengecup kening Mamanya.
“Shalom.. Eh, anak Mama dah pulang. Oh iya Ren, beresin donk kamar kamu, siapa tahu ada barang-barang yang kira-kira gak kepake lagi. Kamar cewe itu gak boleh berantakan dan harus rapi lho.” Nasihat Mama menghujani Rena yang baru aja tiba di rumah.
“Oce deh, Ma..” Sebenarnya Rena ngerasa agak kecapean, tapi dia tetap semangat dan mengerjakannya dengan penuh sukacita.
Setelah beres, Rena berniat mengangkut semua barang bekas yang diperkirakan tidak dibutuhkan lagi. Melihat banyaknya barang bekas itu, mau tidak mau Rena harus bolak-balik keluar-masuk rumah. Sebenarnya Rena bisa saja meminta bantuan dari Mama, tapi diurungkannya niat itu, dia ingin mengerjakannya sendiri tanpa merepotkan mamanya.
“Kasih-Nya seperti sungai, kasih-Nya seperti sungai, kasih-Nya seperti sungaidi hatiku..” senandung Rena sambil membawa semua barang bekas itu dan meletakkannya di tong sampah depan rumah, kemudian dia balik lagi ke dalam rumah untuk menjemput barang bekas trip kedua.
“Berkat-Nya seperti sungai, berkat-Nya seperti sungai, berkat-Nya seperti sungai di hatiku..” senandung Rena lagi sambil sedikit menari-nari menikmati lagu. Tapi betapa kagetnya Rena saat melihat ada seorang ibu dan bocah kira-kira berumur 13 tahun sedang sibuk mengaduk-aduk tumpukan barang bekas yag tadi dibuang Rena.
Bagi Rena ini adalah pemandangan pertama. Belum sampai lima menit dia meninggalkan tumpukan barang bekasnya ternyata sudah muncul pemulung ibu dan anak yang secepat kilat sibuk bergelut dengan penuh kegembiraan di dalamnya.
Aneh, wajah mereka saat melihat isi tong sampah tidak jauh berbeda dengan wajah para wanita yang bersinar-sinar saat melihat isi keranjang di mall yang bertuliskan “SALE”. Miris, saat ini mereka sedang tidak berada di antara kaos-kaos baru atau boneka-boneka bagus, tapi tampaknya mereka begitu bergairah berada di antara tumpukan barang-barang bekas yang bagi Rena sebenarnya sudah tidak berguna lagi.
Dengan cekatan ibu dan anak itu memilah-milah, bahkan tampaknya mereka ingin sekali memborong semua barang yang bagi Rena sudah disebut sampah. Saat melihat tingkah laku mereka, Rena teringat pada dirinya yang selalu ingin memborong semua isi mall. Tanpa sadar Rena menitikkan air mata, betapa egois dan borosnya dia selama ini. Rena hanya memikirkan keinginan matanya dan terlalu royal, padahal dia tahu benar belum tentu dia membutuhkan semua benda yang dibelinya.
“Bu, ini ada barang-barang yang mungkin berguna bagi ibu dan adik.” Tanpa ragu Rena memberikan semuanya, “dan sebentar Bu, saya akan kembali.” Rena segera masuk ke rumah dan dengan setengah berlari dia kembali lagi. Tangannya dipenuhi kaos-kaos miliknya, menurutnya itu terlalu pas body dan lebih cocok buat si bocah. Tangan mungil bocah itu pun meraih semua pemberian Rena. Wajah ibu dan anak itu terlihat bahagia menerima semuanya. Seketika itu juga, hati Rena diliputi sukacita dan damai sejahtera.
“God, I know now, aku harus bijak memakai uang, gak boleh lapar mata and shoping hanya untuk keinginan mata. Thanks God, udah nunjukin aku sesuatu yang membuatku bersyukur, dan aku akan berubah demi cintaku pada-Mu.” Tatapan Rena mengiringi langkah dan tawa bahagia di balik punggung lemah yang penuh ketegaran hidup.

(fiksi ini pernah dimuat di majalah Kingdom, edisi Juli 2010)

Rajawali itu..

Posted: June 23, 2010 in share
Tags: ,

Ada Enam Hal Yang Dapat Dipelajari Dari Rajawali
Rajawali adalah mahluk ciptaan Tuhan yang sangat indah. Alkitab menuliskan mengenai rajawali sebanyak 38 kali, jauh lebih banyak dibandingkan merpati atau jenis burung lainnya. Seekor rajawali dewasa memiliki tinggi badan sekitar 90 cm, dan bentangan sayap sepanjang 2 m. Ia membangun sarangnya di puncak-puncak gunung. Sarang itu sangat besar sehingga manusia pun dapat tidur di dalamnya. Sarang itu beratnya bisa mencapai 700 kg dan sangat nyaman. Dengan berdasarkan firman Tuhan, kita akan melihat mengenai beberapa hal yang dapat kita pelajari dari burung rajawali ini, baik itu menyangkut keTuhanan maupun kehidupan kekristenan kita. Semoga pengetahuan singkat ini dapat menjadi berkat bagi kita semua. Tuhan Yesus memberkati.

1 : SEMUA BAYI RAJAWALI HARUS BELAJAR UNTUK TERBANG
Di atas puncak gunung yang tinggi, telur rajawali menetas dan muncullah bayi rajawali. Seperti layaknya bayi yang lain, hanya ada dua hal yang sangat disukai oleh bayi rajawali ini untuk dilakukan, yaitu makanan dan tidur. Bayi rajawali akan menghabiskan masa-masa pertamanya di dunia di dalam sarangnya yang nyaman. Setiap hari, induk rajawali mencarikan makanan untuk bayinya dan menyuapi mulut bayi yang sudah terbuka untuk menerima makanan. Dengan perut kenyang, bayi itu tidur kembali. Hal itu berlangsung berulang-ulang dalam hidupnya. Siklus ini berjalan beberapa minggu, sampai pada suatu hari, induk rajawali ini tebang dan hanya berputar-putar di atas sarangnya memeperhatikan anaknya yang ada di dalamnya. Kali ini tanpa makanan. Setelah berputar beberapa kali, induk rajawali akan terbang dengan kecepatan tinggi menuju sarangnya, ditabraknya sarang itu dan digoncang-goncangkannya. Kemudian ia merenggut anaknya dari sarang dan dibawanya terbang tinggi. Kemudian, secara tiba-tiba, ia menjatuhkan bayi rajawali dari ketinggian. Bayi ini berusaha terbang , tapi gagal. Beberapa saat jatuh melayang ke bawah mendekati batu-batu karang, induk rajawali ini dengan cepat meraih anaknya kembali dan dibawa terbang tinggi. Setelah itu, dilepaskannya pegangan itu dan anaknya jatuh lagi. Tapi sebelum anaknya menyentuh daratan, ia mengangkatnya kembali. Hal ini dilakukan berulang-ulang, setiap hari. Hingga hanya dalam waktu satu minggu anaknya sudah banyak belajar, dan mulai memperhatikan bagaimana induknya terbang. Dalam jangka waktu itu, sayap anak rajawali sudah kuat dan ia pun mulai bisa terbang. Saudaraku, banyak orang Kristen seperti bayi rajawali ini. Terlalu nyaman di dalam sarangnya. Kita datang ke gereja seminggu sekali untuk mendapatkan makanan. Kita menunggu pelayan Tuhan untuk memberi mereka “makanan rohani” kedalam mulutnya. Kemudian setelah ibadah selesai, kita pulang dan “tidur” lagi, tanpa melakukan firman Tuhan dan hidup tidak berubah. Baru setelah beban-beban berat menindih selama 1 minggu, kita merasakan “lapar” dan butuh diisi makanan, kemudian kita pun pergi lagi ke gereja untuk di-drop makanan lagi. Hal ini berlangsung terus menerus berulang-ulang tanpa ada pertumbuhan secara rohani dalam hidup kita. Sampai suatu saat, sesuatu pencobaan terjadi dalam hidup kita, sarang digoncangkan dengan keras, dan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kita mulai menyalahkan Tuhan,”Tuhan jahat! Tuhan tidak adil!….” Tidak ! Tuhan tidak jahat ! Jika kita mengalami pencobaan dan goncangan berarti Bapa di surga sedang melatih kita untuk bisa lebih dewasa lagi, agar kita bisa siap untuk terbang. Akan sia-sia menjadi rajawali kalau dia tidak bisa terbang. Berarti akan sia-sia menjadi orang Kristen kalau dia tidak pernah dewasa dalam iman! Akan tetapi perhatikanlah hal ini : setiap pencobaan datang, Tuhan tidak pernah membiarkan anak-anakNya jatuh tergeletak, tapi seperti induk rajawali, pada saat kritis, ia menyambar anaknya untuk diangkat kembali. Beban berat boleh datang, tapi kemudian mulailah untuk berdoa. Mulailah membuka Alkitab dan membaca firman Tuhan. Kemudian kita akan menyadari bahwa jawaban doa itu telah datang. Masa-masa sukar akan selalu ada di depan kita, tapi kita akan menemukan diri kita selalu penuh dengan pengharapan jika kita tetap berdiri pada kebenaran firman Allah. Apa yang sedang terjadi ? Ternyata kita sedang merentangkan sayap kita ! Kita sedang belajar terbang ! Tuhan mengangkat dan memuliakan kita melalui pencobaan-pencobaan yang kita alami. Jika induk rajawali melatih anaknya untuk mempergunakan sayapnya, Tuhan melatih kita untuk mempercayai firmanNya dan mempergunakan iman kita.

2 : RAJAWALI DICIPTAKAN UNTUK TINGGAL DI TEMPAT TINGGI
Berbeda dengan jenis burung lainnya, rajawali diciptakan untuk terbang di tempat-tempat yang tinggi, jauh dari pandangan mata telanjang dan jauh dari jangkauan para pemburu. Burung rajawali memiliki keunikan, jika ia berada di alam bebas, akan menjadi burung yang paling bersih di antara burung lainnya, tapi jika dia berada di dalam ‘penjara’dan terikat, ia akan menjadi burung yang paling kotor (hal ini dikarenakan rajawali mengkonsumsi makanan yang berbeda dengan burung lainnya). Saudaraku, Tuhan menciptakan kita untuk selalu terbang dan berada di tempat yang tinggi, yaitu selalu berada dalam hadiratNya dan bebas dari kontrol dunia. Jika orang kristen berada dalam ikatan-ikatan duniawi, ia akan menjadi orang yang terkotor dibandingkan dengan orang lain.

3 : RAJAWALI TIDAK TERBANG, TAPI MELAYANG
Rajawali tidak terbang seperti layaknya burung-burung yang lain, mereka terbang dengan mengepak-kepakkan sayapnya dengan kekuatan sendiri. Tapi yang dilakukan rajawali ialah melayang dengan anggun, membuka lebar-lebar kedua sayapnya dan menggunakan kekuatan angin untuk mendorong tubuhnya. Yang membuat rajawali sangat spesial ialah ia tahu betul waktu yang tepat untuk meluncur terbang. Ia berdiam di atas puncak gunung karang, membaca keadaan angin, dan pada saat yang dirasa tepat ia mengepakkan sayapnya untuk mendorong terbang, lalu membuka sayapnya lebar-lebar untuk kemudian melayang dengan menggunakan kekuatan angin itu. Saudaraku, angin sering disebutkan dalam Alkitab sebagai penggambaran dari Roh Kudus. Kita dapat belajar untuk bekerja sama dengan Roh Kudus dan membiarkan-Nya mengangkat kita lebih tinggi lagi, semakin dekat dengan Tuhan Yesus. Seringkali kita ‘terbang’ dengan kekuatan kita sendiri, hasilnya kita menemui banyak kelelahan, kekecewaan dan kepahitan dalam hidup ini. Tapi belajar dari rajawali, kita mau untuk ‘terbang’ melintasi kehidupan ini dengan mengandalkan Roh Kudus. Angin, juga berbicara mengenai kesulitan-kesulitan hidup. Badai sering menggambarkan adanya pergumulan dalam hidup ini. Bagi rajawali, badai adalah media yang tepat untuk belajar menguatkan sayapnya. Dia terbang menembus badai itu, melayang di dalamnya, melatih sayapnya untuk lebih kuat lagi. Orang ‘Kristen Rajawali’ seharusnya mengucap syukur dalam menghadapi berbagai-bagai pencobaan. Karena saat itulah saat yang tepat bagi kita untuk mempergunakan pencobaan sebagai media untuk menguatkan sayap-sayap iman kita.

4 : RAJAWALI MEMILIKI WAKTU KHUSUS UNTUK PEMBAHARUAN
Ketika rajawali berumur 60 tahun, ia memasuki periode pembaharuan. Seekor rajawali akan mencari tempat tinggi dan tersembunyi di puncak gunung. Ia berdiam disitu, membiarkan bulu-bulunya rontok satu demi satu. Rajawali ini mengalami keadaan yang menyakitkan dan sangat mengenaskan selama kira-kira 1 tahun. Ia menunggu dengan sabar selama proses ini berlangsung, dan setiap hari ia membiarkan sinar matahari menyinari tubuhnya untuk mempercepat proses penyembuhannya. Melalui proses ini, bulu-bulu barupun tumbuh, dan rajawali menerima kekuatan yang baru sehingga ia mampu untuk bertahan hidup hingga umur 120 tahun, seperti normalnya rajawali hidup. Saudaraku, seperti rajawali, orang kristen perlu memiliki waktu-waktu khusus untuk proses pembaharuan dalam hidup ini. Membiarkan hal-hal lama yang tidak berguna lagi ‘rontok’ dan menanti-nantikan dengan sabar pemulihan dari Tuhan. Pembaharuan adalah prinsip Ilahi, dimana Allah memotong segala sesuatu yang tidak menghasilkan buah dalam hidup kita ini agar kita mampu berbuah lebat. Selama kita menantikan Dia, relakan proses pembaharuan itu berlangsung.

5 : RAJAWALI JUGA KADANG-KADANG SAKIT, SEPERTI MANUSIA
Ketika rajawali mengalami sakit di tubuhnya, ia terbang ke suatu tempat yang sangat disukainya, dimana ia dengan leluasa dapat menikmati sinar matahari. Karena sinar matahari memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan rajawali, dan juga merupakan obat yang paling mujarab baginya . Saudaraku, ketika kita sakit, baik itu sakit secara fisik, ekonomi, rumah tangga, pekerjaan, pelayanan, atau sakit rohani kita, apakah kita jug mencari Allah yang memainkan peranan penting dalam hidup kita, yang juga merupakan sumber kesembuhan bagi segala macam ‘penyakit’ ?

6 : SETIAP BURUNG RAJAWALI PASTI MATI
Ketika rajawali berada dalam keadaan mendekati waktu kematiannya, ia terbang ke tempat yang paling disukainya, di atas gunung, menutupi tubuhnya dengan kedua sayapnya, memandang ke arah terbitnya matahari, lalu….mati. Saudaraku, sudah selayaknya, semua orang Kristen mati dengan mata dan hati tetap tertuju pada Yesus sebagai sumber dari pengharapan dan jaminan di dalam kehidupan kekal.

Jadilah Seperti Rajawali. Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya. [Mat 21:22] GBU All.

(dari berbagai sumber)

d’first

Posted: June 23, 2010 in share

Sehari setelah menyandang gelar SE (sarjana ekonomi) jebolan perguruan tinggi negeri rasanya begini toh. Sebenarnya belum punya planning apapun untuk menjalani hari-hari ke depan akan seperti apa. Yah, paling juga mengerjakan beberapa perbaikan skripsi dan pendaftaran wisuda yang lamanya tidak bisa diprediksi. Seperti yang terjadi pada teman-teman yang lain, menunggu adalah saat yang paling membosankan. Seminggu setelah sidang barulah mereka diperkenankan mendaftarkan diri secara online di portal akademik. Sementara aku yang belum 24 jam menjadi seorang SE tidak sepantasnya berharap bisa segera online seperti yang lainnya. Harapan satu-satunya adalah menunggu secercah harapan semoga pihak kampus segera mengaktifkan akun portalku supaya aku bisa segera daftar wisuda secara online. Lalu, sambil menunggu waktu mengurus satu-persatu urusan yang harus diurus, yah apa mau dikata  menulis adalah satu-satunya aktivitas yang paling menarik perhatian, disusul dengan membaca buku atau majalah. Sebuah pintu sedang terbuka, aku ingin mewujudkan mimpiku sebagai penulis.Entah kapan akan terwujud, tidak ada yang tahu.Yang terpenting sedia payung sebelum hujan, hehe, apa hubungannya..